Search This Blog

Loading...

KERUSAKAN TOTAL (Total Depravity)

Posted by David Budiono Labels:

I. KERUSAKAN TOTAL TIDAK BERARTI ...
A. Kerusakan total tidak berarti kerusakan mutlak
Kerusakan total bukan berarti ia tidak dapat menjadi lebih jahat lagi, melainkan bahwa tidak ada satupun perbuatannya baik, kejahatan telah meresapi setiap kemampuan jiwanya dan setiap bidang kehidupannya dan tidak mampu melakukan satupun hal yang baik. Berbeda dengan kerusakan mutlak yang berarti bahwa seseorang menyatakan kerusakan atau kebobrokannya telah sampai tingkat yang paling maksimal sepanjang waktu.

Sebagai contoh : ketika anak anak saling menyakiti, mereka sering melakukannya dengan cara mentertawakan atau memukul atau mendorong; tetapi mereka dapat melakukan yang lebih buruk daripada itu, seperti mencungkil mata dengan gunting atau menusukkan jarum ke bawah kuku.

Ada orang orang dewasa yang menyebut orang lain ‘tolol’ / ‘bajingan’ dan sebagainya, tetapi mereka dapat saja memukul orang lain sampai rontok giginya.

Hitler adalah seseorang yang kejam dan brutal; tetapi dia pernah melepaskan sejumlah desa di Perancis atas permohonan seorang pastor.

1 Samuel 16:14 “Tetapi Roh TUHAN telah mundur daripada Saul, dan sekarang ia diganggu oleh roh jahat yang daripada TUHAN”, dengan kata lain, pada periode awal pemerintahannya, ia tidak bertindak seburuk yang dilakukannya pada masa berikutnya.

Bahkan orang-orang yang berada dalam proses melakukan dosa yang tak terampuni (Ibrani 6:4-8), pada saat tertentu tidak berbuat sejahat yang dapat mereka lakukan.

2 Timotius 3:5 “Secara lahiriah mereka menjalankan ibadah mereka, tetapi pada hakekatnya mereka memungkiri kekuatannya”, orang-orang munafik ini dapat menyingkirkan semua kesalehan yang mereka tampilkan dan langsung menganiaya orang lain, tetapi mereka tidak melakukan hal ini.

Setiap orang pernah membenci, tetapi tidak setiap orang pernah membunuh. Hampir semua orang pernah birahi, tetapi tidak semua orang pernah melakukan perzinahan secara aktual.

Alasan masih ditekannya dosa adalah karena Allah, melalui anugerah umumnya (yaitu anugerah yang dicurahkan kepada semua manusia, bahkan kepada orang-orang yang tidak percaya) mengekang kejahatan yang akan dilakukan manusia.

B. Kerusakan total tidak berarti hilangnya kebaikan relatif
Orang-orang yang belum dilahirkan kembali juga dapat melakukan kebaikan relatif. Perbuatan baik relatif bisa memiliki bentuk lahiriah yang benar tetapi tidak bersumber dari iman yang sejati atau tidak dilakukan untuk kemuliaan Allah.

Misalnya, seorang mencuri 500 juta dari sebuah bank kemudian menyumbang-kan 100 juta kepada Palang Merah untuk mendapat pujian. Sumbangan orang ini tampaknya sesuai dengan hukum Allah, tetapi karena tidak bersumber pada iman dan tidak dilakukan untuk kemuliaan Allah, sebenarnya perbuatan baik tersebut berdosa. Perbuatan seperti ini hanyalah baik secara relatif.

Alkitab juga memberi sejumlah contoh mengenai kebaikan relatif. Di dalam Perjanjian Lama disebutkan tentang 3 raja, yaitu Yehu, Yoas, dan Amazia, yang tidak sunguh-sungguh takut akan Allah dan tidak bertobat. Meskipun demikian, Allah berfirman kepada Yehu: “Oleh karena engkau telah berbuat baik dengan melakukan apa yang benar di mataKu, … maka anak-anakmu akan duduk di atas takhta Israel sampai keturunan keempat” (2 Raja-Raja 10:30). Juga mengenai Yoas, Alkitab mengatakan bahwa dia “melakukan apa yang benar di mata TUHAN” (2 Raja-Raja 12:2), Juga mengenai Amazia, yang dapat kita lihat di sini bahwa ketiga raja ini melakukan hal yang benar di mata TUHAN meskipun diri mereka sendiri berada dalam keadaan terhilang.

Dalam perjanjian baru, Lukas 6:33, “…jikalau kamu berbuat baik kepada orang yang berbuat baik kepada kamu, apakah jasamu? Orang-orang berdosapun berbuat demikian.” Roma 2:14. “bangsa-bangsa lain yang tidak memiliki hukum Taurat oleh dorongan diri sendiri melakukan apa yang dituntut hukum Taurat.” Mereka tidak mengenal Yesus Kristus, mereka tidak memiliki hukum-hukum Perjanjian Lama, namun mereka melakukan hal-hal yang secara lahiriah sesuai dengan hukum Allah – hal-hal yang menyenangkan Allah dalam pengertian relatif.

Sungguh kita patut bersyukur kepada Allah atas anugerah umumNya yang dengannya Ia bukan saja mengekang kejahatan dalam diri orang-orang yang belum lahir kembali, tetapi juga memampukan mereka untuk melakukan kebaikan relatif.

II. KERUSAKAN TOTAL ADALAH ...
A. Secara positif : selalu dan semata-mata berbuat dosa
Kebaikan relatif ini secara fundamental bukanlah kebaikan sejati dalam pandangan Allah dan pada dasarnya dan dalam pengertian yang terdalam tidak lain adalah dosa dan kejahatan.

Kejadian 6:5 “bahwa kejahatan manusia besar di bumi dan bahwa kecenderungan hatinya selalu membuahkan kejahatan semata-mata”. Dan menurut Alkitab, kecenderungan yang paling dalam ini semata-mata jahat dan terus menerus jahat – sepanjang waktu. Kejadian 8:21, menambahkan bahwa keadaan ini terjadi pada manu-sia bukan hanya pada saat manusia telah dewasa, melainkan sejak kecilnya.
Yeremia 17:9, “Betapa liciknya hati, lebih licik daripada segala sesuatu, … siapakah yang dapat mengetahuinya?” Mazmur 51:7, “Sesungguhnya, dalam kesalahan aku diperanakkan, dalam dosa aku dikandung ibuku” (bandingkan Mazmur 14 dan 53).
Roma 3:10-18, “Tidak ada yang benar, seorangpun tidak. Tidak ada seorangpun yang berakal budi, tidak seorangpun yang mencari Allah. Semua orang telah menyeleweng, mereka semua tidak berguna, tidak ada yang berbuat baik, seorangpun tidak … rasa takut kepada Allah tidak ada pada orang itu”.

Manusia tidak melakukan dosa dengan semua cara yang ada, dan juga tidak sampai pada cara yang terburuk; dan bahkan manusia mampu melakukan sejumlah kebaikan relatif, tetapi dalam semua yang dilakukannya itu ia berbuat dosa. Ia tidak dapat melakukan satu halpun yang benar-benar menyenangkan Allah.

B. Secara negatif : ketidakmampuan total
Cara lain untuk menjelaskan tentang kerusakan total adalah dengan menye-butnya sebagai ketidakmampuan total. Istilah ini berguna untuk menjelaskan fakta mengenai ketidakmampuan manusia untuk melakukan, memahami atau bahkan menginginkan kebaikan.

1. Manusia tidak dapat melakukan kebaikan
Matius 7:17-18, “Setiap pohon yang baik menghasilkan buah yang baik, sedang pohon yang tidak baik menghasilkan buah yang tidak baik. Tidak mungkin pohon yang baik itu menghasilkan buah yang tidak baik, ataupun pohon yang tidak baik itu menghasilkan buah yang baik”, dengan kata lain, orang yang belum lahir kembali tidak dapat melakukan apa yang benar-benar baik. (Bandingkan 1 Korintus 12:3)

Pada kesempatan lain, Yesus menyatakan rahasia kehidupan Kristen: berdiam-nya Kristus di dalam diri kita (Yohanes 15), selanjutnya juga tertulis “… sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa”. Ini yang dimaksudkan dengan ketidakmampu-an total. Roma 8:7-8, “Keinginan daging [yaitu, orang yang belum dilahirkan kembali] adalah perseteruan terhadap Allah, karena ia tidak takluk kepada hukum Allah; hal ini memang tidak mungkin baginya. Mereka yang hidup dalam daging, tidak mungkin berkenan kepada Allah”.

Dengan kata lain, orang yang belum lahir kembali berseteru terhadap Allah, ia tidak taat kepada hukum Allah dan ia tidak mungkin dapat melakukan kebaikan sejati serta berkenan kepada Allah.

2. Manusia tidak dapat memahami kebaikan
Kisah Para Rasul 16:14, setelah TUHAN membukakan hatinya barulah ia dapat memperhatikan apa yang dikatakan oleh Paulus. Efesus 4:18, sebelum itu, pengertiannya gelap, menurut gambaran Paulus tentang orang-orang kafir di Efesus. 2 Korintus 3:12-18, ada suatu selubung yang menutupi hatinya mencegah dia untuk melihat kebenaran.

Selama pelayananNya, Yesus ditolak orang-orang Yahudi. “Ia datang kepada milik kepunyaanNya, tetapi orang-orang kepunyaanNya itu tidak menerimaNya (Yohanes 1:11). Bandingkan Yohanes 8:43. Di kesempatan lain, “Kamu akan mendengar dan mendengar, namun tidak mengerti, kamu akan melihat dan melihat, namun tidak menganggap.” (Matius 13:14).

“Manusia duniawi tidak menerima apa yang berasal dari Roh Allah, karena baginya hal itu adalah suatu kebodohan; dan ia tidak dapat memahaminya, sebab hal itu hanya dapat dinilai secara rohani” (1 Korintus 2:14). Dengan kata lain, tanpa Roh Kudus, manusia tidak dapat memahami hal-hal yang berasal dari Allah.

3. Manusia tidak dapat menginginkan kebaikan
Ketidakmampuan untuk menginginkan yang baik, khususnya menginginkan Yesus Kristus, dinyatakan dengan tegas oleh Tuhan Yesus dalam pernyataan-pernyataanNya mengenai apa yang tidak dapat manusia lakukan (baca Matius 7:18; Yohanes 3:3; 8:43; 15:4-5).

Ia berfirman: “Tidak ada seorangpun yang dapat datang kepadaKu, jikalau ia tidak ditarik oleh Bapa yang mengutus Aku” (Yohanes 6:44). “Tidak ada seorangpun dapat datang kepadaKu, kalau Bapa tidak mengaruniakannya kepadanya” (Yohanes 6:65).

Inilah kerusakan total: manusia tidak dapat memilih Yesus. Manusia bahkan tidak dapat mengambil langkah pertama untuk datang kepada Yesus, kecuali Bapa yang menarik dia. Kerusakan total ini bersifat universal. “Tidak ada seorangpun” yang dapat datang, demikian firman TUHAN. Bukan “sebagian orang tidak dapat datang” tetapi “tidak ada seorangpun dapat datang”. Ini menyatakan ketidakmampuan total yang universal.

Perjanjian Lama, Yehezkiel 11:19, orang yang belum dilahirkan kembali dilukiskan sebagai orang yang berhati batu (LAI : hati yang keras). Hati batu adalah hati yang mati, tidak dapat berbuat apa-apa. Suatu ketidakmampuan total. Tetapi Allah berfirman bahwa Ia akan melahirkan kembali umatNya. Ia akan memberikan roh yang baru kepada mereka, maka mereka akan memiliki hati dan daging, artinya hati yang hidup. Setelah itu, mereka akan berkemampuan untuk mengikut TUHAN.

Perjanjian Baru, Yohanes 3:3, “Jika seorang tidak dilahirkan kembali, ia tidak dapat melihat kerajaan Allah”. Bayi tidak pernah menginginkan atau memutuskan untuk dilahirkan. Ia tidak pernah memberi kontribusi sekecil apapun kepada proses kelahirannya. Dalam seluruh proses, mulai dari awal pembuahan sampai kelahiran, sang bayi benar-benar pasif dan sama sekali tidak mampu mengendalikan kelahirannya. Demikian juga orang yang belum percaya tidak dapat mengambil satu langkahpun menuju kelahiran kembali, ia harus dilahirkan oleh Roh Kudus. Ada yang mengajarkan konsep yang tidak alamiah bahwa suatu ketidakberadaan (non-being) yang rohani, dapat memiliki keinginan untuk dilahirkan – dapat percaya kepada Kristus serta dilahirkan kembali. Tetapi suatu ketidakberadaan tidak bereksistensi, dan karena itu, ia tidak mungkin dapat memiliki keinginan untuk datang kepada Kristus.

Paulus menggunakan ilustrasi penciptaan. Ia mengatakan bahwa orang yang berada di dalam Kristus adalah ciptaan baru (2 Korintus 5:17; Galatia 6:15). Suatu ketidakberdayaan tidak dapat menciptakan dirinya sendiri, dan sudah pasti mengimplikasikan ketidakmampuan total dari obyek yang diciptakan.

Paulus juga menggunakan analogi kebangkitan kembali. Efesus 2:1, “Kamu dahulu sudah mati karena pelanggaran-pelanggaran dan dosa-dosamu”, ay 5 “[Allah]… telah menghidupkan kita bersama-sama dengan Kristus sekalipun kita telah mati oleh kesalahan-kesalahan kita” (bandingkan Kolose 2:13).

Sejumlah orang Kristen yang sungguh-sungguh beriman menafsirkan bahwa manusia berada dalam keadaan cedera atau sakit, tetapi tidak mati, karena manusia memiliki kemampuan untuk meminta pertolongan kepada Allah untuk diselamatkan, manusia memiliki kemampuan untuk percaya atau tidak percaya. Manusia belum sungguh-sungguh mati; karena kalau ia sudah mati, ia tidak dapat minta tolong, manusia hanya sakit. Tetapi ajaran Alkitab yang begitu jelas dan berkata: “Tidak, manusia sudah mati. Manusia bahkan tidak dapat membuka mulutnya. Manusia juga tidak memiliki keinginan untuk meminta tolong kepada dokter. Manusia sudah mati.

Sejumlah orang Kristen yang sungguh-sungguh beriman membandingkan orang yang belum dilahirkan kembali seperti seseorang yang melompat dari jendela tingkat 2 sebuah rumah, 2 tulang rusuknya patah, kakinya juga patah, namun masih hidup, dan ia tahu bahwa ia memerlukan dokter. Ia dapat meminta pertolongan orang yang lewat atau menyeret dirinya ke tempat telpon untuk menelpon dokter. Ia ingin diobati dan disembuhkan. Tetapi gambaran yang alkitabiah adalah orang yang belum dilahirkan kembali digambarkan sebagai seseorang yang melompat dari puncak gedung pencakar langit dan tubuhnya berserakan di jalan. Ia tidak dapat mengetahui bahwa ia memerlukan pertolongan, apalagi berteriak minta tolong. Orang ini sudah mati – tidak memiliki kehidupan – dan tidak mungkin dapat menginginkan pengonbatan.

Sejumlah orang Kristen yang sungguh-sungguh beriman menyatakan bahwa manusia memiliki sedikit jasa dalam keselamatannya, yaitu bahwa manusia memiliki kemampuan untuk percaya, yang diilustrasikan seperti seseorang yang sedang tenggelam. Kepalanya timbul tenggelam di air sementara ia menggapai-gapaikan tangannya, berusaha untuk tidak tenggelam. Bila tidak ada orang yang menyelamatkannya, ia akan mati. Mungkin paru-parunya sudah kemasukkan air, mungkin ia sempat pingsan sebentar, tetapi ia masih dapat berpikir dan masih mampu melambai serta menjerit kepada pengawas pantai agar diselamatkan. Tetapi gambaran yang alkitabiah adalah seseorang yang sudah tergeletak di dalam palung laut yang dalamnya 10.500m. Tekanan air yang menindihnya kira-kira 2,4 ton/cm2. Ia telah tenggelam selama 1000 tahun dan hiu-hiu telah memakannya. Dengan kata lain, orang itu sudah mati dan sama sekali tidak dapat meminta pengawas pantai manapun untuk menyelamatkannya. Agar ia dapat diselamatkan, suatu mujizat harus terjadi. Ia harus dihidupkan terlebih dahulu dan dibawa ke permukaan air, setelah itu barulah ia dapat melambai serta menjerit kepada pengawas pantai agar diselamatkan.

Inilah gambaran yang sebenarnya dari orang berdosa. Ia mati karena pelanggaran-pelanggaran dan dosa-dosanya (Efesus 2:1,5).

Pada waktu Yesus memanggil Lazarus untuk keluar dari kubur, Lazarus tidak memiliki kehidupan untuk dapat mendengar, bangkit, dan keluar dari kubur. Agar ia dapat mendengar panggilan Yesus serta datang kepadaNya, ia harus dihidupkan lebih dulu, barulah kemudian Lazarus memberi respons.

Manusia sudah mati karena pelanggaran-pelanggaran dan dosa-dosanya, bukan sekedar sakit atau cedera. Tidak, orang yang tidak diselamatkan, yang belum lahir kembali, telah mati secara rohani (Efesus 2). Ia tidak dapat meminta pertolongan kecuali bila Allah mengubah hati batunya menjadi hati dari daging serta menghidupkannya secara rohani (Efesus 2:5). Kemudian, mengalami kelahiran kembali, barulah untuk pertama kalinya ia dapat datang kepada Yesus, menyatakan penyesalan atas dosa-dosanya dan memintaNya untuk menyelamatkan dia.

Pengajaran mengenai kerusakan total manusia menyatakan bahwa segala kemuliaan adalah bagi Allah, dan tidak ada sedikitpun kemuliaan bagi manusia.

Calendar